Rabu, 29 Agustus 2012

Sky Bridge [ CHAPTER 1 : DONGENG ITU NYATA! ]


Desclaimer                      : Gintama dan aset-asetnya hanya milik Hideaki Soraichi. Akane-chan hanya pinjam sebentar.
Author                             : Akane Ukitake
Fandom                           : Gintama
Genre                              : Humor (Ini diragukan), Friendship (Ini juga diragukan)
Warning                          : GaJe, Semi A.U,OOC, Typo, Garing, Kurang penggunaan EYD, d.l.l

***HAPPY READING!***


***CHAPTER 1***


DONGENG ITU NYATA!


            “Gin-san, kenapa kau disini? Bukannya kau tadi bilang ingin jalan-jalan sebentar?” tanya seseorang dari balik pohon.

            “AKH! Kenapa kau mengikutiku Pattsusan! Aku sudah menyuruhmu untuk menjaga toko! 
Bagaimana kalau ada klien, ah?” balas Gintoki yang tampak kaget dengan munculnya seseorang berkacamata yang sangat ia kenal.

            “Sudah kusuruh Kagura-chan untuk menjaganya!” balas orang berkacamata tersebut.

            “EH? Kau suruh monster itu untuk menjaga toko?! Dasar bodoh! Ia bisa-bisa menghancurkan 
Yorozuya!” seru Gintoki. Ia membalikkan badannya menghadap orang berkacamata tersebut.

            “Pulanglah, Shinpachi! Jaga toko!” perintah Gintoki seolah mengusir Shinpachi jauh dari sana.

            “Kalau kau peduli dengan keselamatan Yorozuya dan rumahmu, kau juga harus pulang,” ucap Shinpachi sambil memperbaiki letak kacamatanya. “Lagipula disini anginnya sangat kencang. Ayo, pulang Gin-san! Kau bisa masuk angin!”

            “ Sudahlah, sana pulang! Anak kecil tidak boleh menasehati orang dewasa!” Gintoki tampak acuh tak acuh dengan perkataan Shinpachi sebelummya.

            “ SIAPA YANG KAU BILANG ANAK KECIL, AH? YANG SEPERTI ANAK KECIL ITU KAU!” seru Shinpachi tidak terima.

            “Baiklah. Kalau begitu, kau seperti ibuku yang menyuruhku pulang seusai bermain,” kata Gintoki. Ia membalikkan badannya dan duduk lesehan di atas rumput yang masih basah dengan embun. Ia mendorong Shinpachi agar sedikit menjauh dari pohon besar yang sempat jadi tempat persembunyian Shinpachi tadi. Setelah Shinpachi bergeser, ia merebahkan punggungnya di batang pohon tersebut.

            “Jadi, kau kesini hanya untuk tiduran dan tidak bekerja?! Kau terlalu kekanak-kanakan Gin-san! Ayolah! Kau juga harus sadar bahwa kita belum membayar uang sewa selama 2 bulan! Apa kau tidak ingat, apa yang dilakukan Otose-san pada kita minggu lalu?!” ucap Shinpachi.

            “Nenek tua itu dan kucing peliharaannya mencegat kita dan men-smackdown kita sampai tak berdaya, bukannya begitu?” pria berambut keriting itu malah membalik pertanyaan pada Shinpachi.

            “INI SERIUS!” Shinpachi makin naik darah.

            “ Ah? Sudah kuberikan jawaban yang sesuai kan?!” Gintoki tampak tak acuh dengan perkataan Shinpachi.

            “ Lagipula, apa yang kau tunggu disini? Yang kulihat hanya lapangan berumput yang luas,”tanya Shinpachi.

            “ Entahlah, aku juga tak tahu,”

            “…..”

            “Ah? Apa?”

            “BAKA, UNTUK APA KAU KESINI, AH! PULANG DAN CARILAH UANG!” Shinpachi langsung menghajar pria berambut perak tersebut sampai mimisan. Gintoki langsung tepar seketika.
            “Kau sangat keras kepala sekali, Shinpachi!”

            “Kalau begini, aku jadi penasaran dengan apa yang kau tunggu!” kata Shinpachi.

            “Kau itu terlalu K-E-P-O dengan urusan orang lain! Nanti aku akan pulang membawa uang!” seru Gintoki sambil mendorong-dorong Shinpachi dengan kakinya.

            “Dengan tidur dan malas-malasan disini, kau bisa mencari uang?  Seberapa bodoh kau?!” sindir Shinpachi.

            “JANGAN MENGATAKANKU BODOH, MATA EMPAT!”

            “Baiklah, aku akan disini untuk memastikan bahwa kau bisa mendapatkan uang!” ucap Shinpachi seolah menantang Gintoki

            “Cih..Zura lama sekali! Apa yang dilakukan oleh perempuan seperti dia? Berdandan untuk menemuiku?”

            “OI, KATSURA-SAN ITU LAKI-LAKI!” Shinpachi makin histeris saja melihat tingkah bosnya tersebut. Namun, Gintoki tampak santai saja mengatakannya.

            “Rambutnya yang panjang mengingatkanku pada iklan S*N**L*K (sensor), hitam, lebat dan panjang!” kata Gintoki.

            “Oi, jangan kau katakan slogannya, kalau begitu para reader akan tahu iklan itu. Apa gunanya disensor?” Shinpachi jadi sweetdrop.

            “Tenang saja, itu hanya iklan lama, tak akan ada yang mengingatnya!”

            “Hohoho, ini membuktikan kau sangat memperhatikan televisi dan tidak pernah bekerja!” sindir Shinpachi.

            “Diamlah, Pattsusan! Kau malah menurunkan imageku di depan para wanita cantik yang sedang membaca cerita ini! Apa kau tidak tahu, kita sekarang sedang krisis penonton, terutama anak-anak!”

            “Anime ini memang tidak cocok untuk anak-anak, Gin-san! Terlalu banyak sensor, dan pasti mereka akan bertanya, ‘Apa itu okaa-san? Apa aku juga punya ******?? Apa Gin-san itu penggangguran okaa-san? Apa penggangguran itu menyenangkan?’ atau mereka yang lebih suka memikirkan jawaban akan berkesimpulan seperti ini, ‘Jadi pengangguran seperti Gin-san adalah hal yang menyenangkan!’ aku malah kasian pada mereka!” jelas Shinpachi dengan muka serius.

            “Oi, apa maksudmu menjelekanku di tengah cerita ini, ah?! Bukannya kau juga membawa dampak penyakit!” seru Gintoki.

            “DAMPAK NEGATIF BUKAN DAMPAK PENYAKIT!”

            “Oh, ya sekarang kau mengakuinya!” ujar Gintoki tersenyum sinis.

            “Teme! Ternyata kau menjebakku! Dasar Tennen Paama!”

            “Oh, kau tidak percaya? Baik akan kukatakan! Pertama, anak-anak akan berkata seperti ini, ‘Aku tak mau lama-lama menonton televisi karena bisa menjadi mata empat seperti Shinpachi! Huwaa pasti mengerikan!” kata Gintoki memperjelas tuduhannya.

            “EH? BUKANNYA ITU DAMPAK POSITIF? BUKANNYA ITU BAGUS?” Shinpachi makin tidak terima.”Dan dalam anime ini, sepertinya hanya aku yang NORMAL!”

            “NORMAL? Menyukai seekor ulat , bisa dibilang normal?” Gintoki makin mendesak Shinpachi. Hohoho, pertempuran makin memanas!

            “ARE? JANGAN MENGEJEK PANDEMONIUM-SAN!”

            “Hai! Sudah kuduga kau Punch Line yang tidak berguna!”

            “EH? KENAPA?” Shinpachi makin histeris. Dan sebenarnya author sudah capek untuk menekan Caps Lock  karena menulis huruf besar semua di dialognya.

            “Author, ganti suasana donk! Kapan Zura muncul? Aku yang memerankannya malah bosan dengan suasana seperti ini! Oi, Author!”

            Author : “Hai! Sebenarnya aku juga sudah mulai bosan dengan Shinpachi. Shinpachi kau out! Zura masuk adegan!”

            “OI, KENAPA AKU MALAH DIUSIR?” Shinpachi makin histeris sampai rambutnya lepas semua dan botak.

            “PENJELASAN APA ITU, AKU TIDAK BOTAK, BAKA!” Shinpachi makin meronta-ronta pada author agar tidak keluar dari adegan. Author malah binggung dengan actor murahan seperti ini.

            “SIAPA YANG KAU BILANG AKTOR MURAHAN !” Shinpachi makin menghina author. Oke, berarti ini duel sungguhan antara Shinpachi dan author!

            “EH? DUEL? MAKSUDNYA? KENAPA?” Shinpachi bertanya-tanya dengan penjelasan author. Dan author tidak mengerti kenapa dialognya hampir semua di Caps Lock.

            “Oi, kalian berdua! Kapan benang merah? Ini sudah hampir menghabiskan 4 halaman! Zura juga belum datang! Bagaimana ini?” Gintoki mencoba melerai perdebatan antara makhluk 2 dimensi dan makhluk 3 dimensi yang dialiri darah.

            Author : Gomenasai Gintoki-sama! Ini, kulemparkan Zura!

            “Are? Lempar?”

            BRUUKK…

            “Dasar author sialan!” Katsura mengumpat pada author. Ia juga terlihat mengelus-ngelus pantatnya yang terasa sakit.

            “Oi, Zura kalau kau ingin jatuh dari langit, perhatikan tempatmu!”

            “Zura janai, Katsura da!” kata Katsura sambil melihat tempat jatuhnya yang terasa empuk sejak tadi.

            “Oi, BANGUN DONK! KAU KIRA AKU BANTAL DUDUK YANG EMPUK?! TULANGKU BISA PATAH SEMUA!” Gintoki meronta-ronta dibawah Katsura yang mendudukinya.

            “Gomenasai, kukira kau bantal duduk yang telah disediakan oleh author, Gintoki-kun!” ucap Katsura tampak tidak bersalah.

            “Sialan!”

            “Anu, kenapa kau dipanggil Gintoki-sama, Gin-san?” tanya Shinpachi.

            “Hohoho, bukannya itu bagus. Kau iri bukan?” balas Gintoki tinggi hati.

            “Sama sekali tidak. Bisa-bisanya dia memanggil penggangguran sepertimu dengan embel –embel ‘-sama’! “ sindir Shinpachi.

            “Gintoki-kun, kau datang kesini? Mencari Jamban Langit?” tanya Katsura polos.

            BRUAK…

            “JEMBATAN LANGIT, BAKA!” koor Gintoki dan Shinpachi berbarengan. Mereka menghajar Katsura sampai tepar tak berdaya (alah bahasanya).

            “Ita…ita…Gomenasai minna-san!” ucap Katsura dalam keadaan sekarat.

            Author : “CUT! MANA EKSPRESINYA?! Uhuk..uhuk…Gintoki-sama sudah bagus kok, lanjutkan, sayang!” –khayalanauthor-

            “Hai! Arigato Gonzaimasu, Akane-chan!” seru Gintoki sambil memamerkan senyum manis dan menawan. (authorlangsungmeleleh)

            “Ah…Gara-gara author demen sama Gin-san. Gin-san jadi gak dimarahi. Dasar Curang!” umpat Shinpachi yag merasakan ketidakadilan author pada character pinjamannya.

            “Yah, sudahlah Shinpachi-kun. Ini lebih baik daripada kita tidak bermain peran karena vakum untuk beberapa bulan ini.” Sahut Katsura.

            “Aku tak sabar menunggu bulan Oktober!” seru Shinpachi.

            “Menunggu ulang tahunku?” tanya Gintoki yang tiba-tiba masuk percakapan antara Katsura dan Shinpachi.

            “SIAPA YANG MENUNGGU ULANG TAHUNMU? AKU TIDAK PEDULI!” jawab Shinpachi kesal.

            “Lalu untuk bulan Oktober?” tanya Gintoki polos.

            “Ah, Gintoki-kun tidak tahu? Kita akan bermain peran lagi bulan Oktober. Yah, itupun baru kabar angin,” jelas Katsura sambil menggosok-gosok jenggotnya. (tunggu! Katsura punya jenggot?)

            “Apa yang dikatakan oleh angin? Mereka membicarakan kita,” tanya Gintoki tidak mengerti.

            “DASAR OTAK LOLA!” seru Katsura dan Shinpachi yang mulai dongkol dengan main character dalam cerita ini.

            “Kau sungguh bodoh, Gintoki-kun!” ejek Katsura.

            “DIAM KAU, ZURA!”

            Author : “Oi, focus ke jalan cerita!”

            Shinpachi mangut-mangut mendengar perintah author “Yah, benar. Kita di luar jalan cerita, tepatnya di trotoar cerita!”

            Author : “Memang jalan raya!”

            “Gintoki-kun, apa kau menunggu jembatan langit?” tanya Katsura.

            “Eh? Kenapa kau tahu hal itu?”

            “Baka, Kita punya satu guru yang sama!” jawab Katsura sambil menjitak kepala Gintoki.

            “Ita, Sakit!” seru Gintoki.

            “Jangan merengek seperti anak kecil,Gintoki-kun!” peringat Katsura

            “SIAPA YANG KAU BILANG ANAK KECIL, AH? Aku kesini karena…”

            “Ini hari ke-110, dalam tahun Naga!” ucap mereka bersamaan.

            “Jangan menguntit ucapanku, Gintoki-kun!” kata Katsura.

            “Jangan menasehatiku lagi, Zura!” balas Gintoki kesal.

            “Zura janai! Katsura da!”

            Di tengah perdebatan antara Gintoki dan Katsura, Shinpachi mengangkat tangannya seperti siswa yang kebinggungan dengan penjelasan gurunya.

            “Gomenasai maksud kalian dengan hari ke-110 dalam tahun naga?” tanya Shinpachi.

            “Ah?”

            “Maksudku, bukannya tahun baru baru beberapa bulan lalu? Kenapa 110 hari? Bukannya tidak pas dengan bulan Agustus?” jelas Shinpachi.

            “Are…”

            “Anggap saja seperti itu, Shinpachi! Kita juga menayangkan episode tentang Natal di bulan Maret dan episode tahun baru di bulan April! ” jelas Gintoki.

            “BUKAN SEPERTI ITU MAKSUDKU!’ seru Shinpachi.

            Author : “Jangan banyak omel Shinpachi, focus ke cerita! Gintoki-sama benar!”

            “ARE? DENGARKAN PENDAPATKU AUTHOR !”

            Author : “Pendapatmu tidak penting!”

            “…..” Shinpachi langsung sweetdrop.

            “Kukira kau tak percaya tahayul, Zura!” kata Gintoki.

            “Zura janai, Katsura da! Dan itu bukan tahayul Gintoki-kun!” jawab Katsura.

            “Maksudnya dengan tahayul?” tanya Shinpachi. Mendengar pertanyaan Shinpachi, Gintoki dan Katsura saling berpandangan dan balik menatap Shinpachi.

            “Apa?” tanya Shinpachi.

            “Ah, anak-anak jaman sekarang sudah tidak pernah mendengar dongeng lagi,” keluh Gintoki.

            “Ya, padahal di dalam dongeng terdapat banyak petuah hidup yang patut dicontoh,” sahut Katsura.

            “OI, KENAPA KALIAN SEPERTI BAPAK-BAPAK, AH!” seru Shinpachi.

            “Namun, itu sebenarnya bukan dongeng, Shinpachi! Itu nyata, benar-benar nyata!” kata Katsura.

            “Maksud Katsura-san?” tanya Shinpachi tidak mengerti.

            “Jembatan Langit, adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara kerajaan langit dan bumi. Jembatan ini muncul pada hari ke-110 dalam tahun Naga. Para pelangit akan membuka gerbang langit. Namun, yang bisa menyeberangi Jembatan Langit hanya orang yang sabar dan tabah. Tentu saja baik hati,” jelas Katsura.

            “Kau seperti mengajari anak kecil, Zura!”

            “Zura janai, Katsura da!”

            “Benarkah cerita itu Gin-san?” tanya Shinpachi sambil menatap Gin-san yang asyik termenung sendiri.
            “Ah, kalau itu kerajaan berarti….”

            “Benar! Kalau disana kerajaan langit, berarti…”timpal Katsura.

            “Berarti….”

****TO BE CONTINUED****


 Huwaa, akhirnya selesai juga Chapter 1, minna-san! Gomenasai kalau masih abal, GaJe, dan hancur. Gomenasai, minna-san!

Ini fanfict saya pertama di fandom GINTAMA. Gomenasai kalau benar-benar GaJe. Aduh, gomenasai minna-san! (merasaberdosa). Story kali ini adalah dongeng khayalan saya, jadi Gomenasai kalau ceritanya aneh. Aduh, Gomenasai!

Saya benar-benar masih penulis pemula. Bagi senpai-senpaiku yang baik hati (ditabok) tolong tinggalkan komentar ya? Onegai, Senpai! Komentarnya pasti akan berguna bagi Akane-chan!

Spesial Thanks untuk yang telah bersedia membaca dan memberi komentar fanfict Akane-chan, semoga pahalanya makin banyak.  Arigato, minna-san!

Salam GINTAMA MANIA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar